Minggu, 25 Oktober 2015

Digital Communication Surya University (Cerpen: Rencana Tak Terduga)


Aku terbangun dari mimpi indahku. Satu minggu lagi namaku berubah menjadi nyonya Kusuma. Dita Ariyanti seorang gadis yang terkadang labil sebentar lagi akan menikah. Ah, masih teringat jelas dalam anganku kejadian dua tahun lalu. Saat ia mengungkapkan isi hatinya bahwa ia mencintaiku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tanpa fikir panjang, aku mengiyakan permintaannya. Karena aku tau betul bagaimana ia memperjuangkan cintanya kepadaku selama hampir enam bulan. Ia terus berusaha menghubungiku, membuka percakapan, mengajakku kencan, semua itu ia lakukan demi mendapatkan hatiku. Aku tidak pernah berfikir bahwa laki-laki yang pernah aku tolak cintanya hingga lima kali itu sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupku.

Berawal dari pertemuan singkat di lobby kantor, sepertinya ia mulai menaruh perasaan padaku. Pertemuan kami menjadi sangat sering tatkala kami dipertemukan dalam sebuah rapat di kantor. Dalam rapat itu, mata coklatnya selalu tertuju kepadaku, bahkan tak jarang tatapan kami saling bertabrakan di tengah rapat yang sedang berlangsung. Entah mengapa tak ada goncangan sedikitpun dari dalam hatiku ketika mata kami saling bertemu. Menurutku, tak ada yang spesial darinya. Tak ada yang menarik bagiku, mungkin karna ia bukan tipeku.Setiap hari ku habiskan hampir setengah hidupku di kantor. Kantor yang membuatku terkadang lupa untuk pulang. Kantor yang membuatku lupa untuk menghibur diriku sendiri. Hampir tak ada waktu untukku sejenak berlibur. Sabtu dan Minggu yang banyak orang bilang adalah weekend buatku sama saja. Aku tetap harus menyelesaikan pekerjaan kantorku di rumah. Entah apa yang membuatku mampu menjalani hal ini hingga satu tahun lamanya. Menyelesaikan semuanya dalam kesendirian, tanpa keluarga, tanpa orang tua, dan tanpa kekasih.Kekasih? Tiba-tiba aku teringat pertanyaan ibuku di ujung telfon minggu lalu.“Kamu kapan nikah nak? Mbok yo jangan kerja terus toh, kamu kan perempuan. Carilah laki-laki yang mau kerja untukmu nak.”Mendengar pertanyaan itu, hati ini serasa seperti tenggorokan yang tersedak makanan. Aku hampir tak bisa menjawabnya. Ya, memang sudah hampir dua tahun ku habiskan hidupku dengan kesendirian ini. Tanpa kekasih, tanpa laki-laki di sampingku. Buatku, tak ada yang lebih penting selain bisa memberikan sedikit hasil kerja kerasku kepada keluarga yang berada jauh di kota pahlawan sana. Sejak lulus kuliah, aku memang memutuskan untuk mengadu nasib di ibukota. Aku mencoba peruntunganku sebagai sarjana ekonomi di berbagai perusahaan di Jakarta. Syukurlah, belum satu bulan aku tinggal di kota sejuta umat ini, aku sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan yang sudah cukup terkenal di ibukota. Jabatanku memang hanya seorang accounting, tapi aku sangat mencintai pekerjaanku.Hingga tak terasa satu tahun sudah aku menjalani pekerjaan yang sangat aku cintai ini. Bahkan mungkin beberapa orang menganggap aku sangat gila dengan pekerjaanku. Karena aku sering menghabiskan waktuku di kantor hingga pukul sembilan malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaan kantorku. Sungguh bukan waktu yang baik untuk seorang wanita sepertiku untuk pulang ke kontrakan.  Tak jarang, satpam kantor menegurku “Neng, jam segini baru pulang? Emangnya ga takut ada preman?” aku hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman.Saat aku sedang berjalan menuju stasiun yang jaraknya tak jauh dari kantorku, tiba-tiba saja ada suara yang masuk ke dalam gendang telingaku “Ditaaa!!” aku seperti mengenali suara itu, suara berat nan berwibawa yang sering mendapatkan pujian saat rapat di kantor. Laki-laki itu adalah Deva Kusuma. Teman sekantorku yang sudah hampir dua minggu ini memberikan senyum dan tatapan yang berbeda setiap kali bertemu denganku.Mendengar suara itu, aku hanya menolehkan kepalaku ke belakang selama tak lebih dari lima detik. Aku tahu bahwa itu dirinya, aku terus melanjutkan langkahku menyusuri jalan setapak berwarna hitam putih ini. Namun suara itu kembali menggetarkan gendang telingaku, aku pun menghentikan langkahku sejenak hanya untuk menjawab suara itu “Apaan sih?” laki-laki itu langsung menarik gas sepeda motornya dan menghampiri tepat di sisi kanan tubuhku “Bareng yuk, dari pada lo pulang sendirian udah malem gini.” Aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai tanda penolakan, namun ia terus membujukku untuk dapat pulang bersamanya. Tak tahu kenapa, hati ini luluh mendengar bujukannya. Mungkin karena saat itu aku sudah sangat lelah seharian bekerja dan ingin cepat sampai di rumah.Setelah sampai di depan rumah kontrakanku, ia berkata “Kalo pulang bareng gue aja ya, jangan sendirian. Bahaya.” Aku hanya mengacuhkan pesan singkatnya itu dan langsung berjalan menuju pintu rumahku. Aku tak lagi memikirkan apa yang baru saja terjadi barusan. Aku langsung membersihkan tubuhku setelah seharian tak mendapatkan perhatian akibat pekerjaan yang begitu banyak di kantor. Tak ada lagi yang ingin ku lakukan di rumah selain beristirahat. Hanya rumah kontrakan kecil inilah tempatku biasa melabuhkan mimpi-mimpi. Tiba-tiba terlintas pertanyaan dalam benak, kapan aku bisa pindah dari rumah kecil ini ke rumah yang lebih besar dan membangun mimpi bersama lelaki idamanku. Ah sudahlah! Apa yang aku fikirkan? Aku harus segera tidur karena besok aku masih harus melanjutkan hidupku dengan segudang pekerjaan di kantor.Seperti biasa, pagiku selalu dihabiskan untuk bersiap-siap berangkat ke kantor. Masih dengan kendaraan yang sama setiap harinya, angkot dan kereta listrik commuter line dengan harga yang sangat murah. Aku hanya butuh mengeluarkan uang empat ribu rupiah untuk bisa sampai di kantor. Bukan uang yang besar jika dibandingkan dengan penghasilanku setiap bulannya. Aku lebih memilih menggunakan angkutan umum dari pada harus mengendarai sepeda motor setiap hari dan berjibaku dengan kemacetan ibukota. Rasanya aku tak sanggup.Hari ini, aku kembali dengan rutinitasku. Menyelesaikan pekerjaan di kantor, rapat, sekadar bertegursapa dengan teman kantorku, dan kadang makan siang bersama dengan mereka. Namun hari ini berbeda, laki-laki itu datang lagi. Kali ini ia mengajakku makan siang bersama di kantin kantor. Aku sempat menolak ajakannya, namun ia terus memaksaku hingga akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Selama kurang lebih lima belas menit berada di meja makan, kami hanya berdiam. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kami.Hingga akhirnya ia memecah keheningan ini dengan pertanyaan “Lo udah punya pacar belum Dit?”Aku yang saat itu sedang mengunyah makanan, hampir saja mengeluarkan makanan yang masih setengah hancur itu di dalam mulut. “Hah? Apaan sih lo. Ga penting banget deh nanyanya.”“Loh kok ga penting? Gue kan cuma nanya, tinggal lo jawab aja punya atau engga. Gampang kan?”Aku tak selera lagi dengan makananku, aku langsung meninggalkan meja makan dan keluar dari kantin. Aku mendengar seperti ada suara memanggilku. Aku tak menghiraukan suara itu dan semakin mempercepat langkahku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, aku selalu merasa geram setiap mendengar pertanyaan semacam itu.Sejak kejadian itu, ia terus berusaha untuk mendekatiku. Deva terus berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Hingga akhirnya aku pun bosan dengan pertanyaan yang hampir setiap hari terus menerus sama. Mau tidak mau, aku menjawab pertaannyan yang entah mengapa selalu membuatku geram.Sejak ia tau bahwa tak ada laki-laki yang sedang bersamaku, ia semakin sering mengajakku makan siang, mengantarkanku pulang ke rumah, serta tidak segan-segan membantu pekerjaan kantorku yang aku rasa sulit. Entah apa yang membuatku mau untuk didekati olehnya, tak biasanya aku bisa seperti ini kepada laki-laki asing dalam hidupku. Aku memang bukan wanita yang mudah didekati oleh laki-laki, sekalipun ia sangat baik kepadaku. Namun entah mengapa hal itu tidak berlaku pada Deva, laki-laki yang sudah mulai dekat denganku selama kurang lebih enam bulan.Tepat tanggal 23 Februari 2013, di sebuah cafe yang bisa disebut sebagai cafe romantis, Deva mengungkapkan isi hatinya kepadaku. Ia memintaku untuk menjadi kekasihnya.“Dit, aku sayang sama kamu. Kamu mau ga jadi pacar aku?”Sejenak aku terdiam, tak ada kata yang mampu aku ungkapkan. Entah apa yang aku rasakan saat itu. Jantungku berdetak begitu cepat dan aku tak mampu berkata-kata, hingga Deva mengulang pertanyaannya kembali.“Dit, kok diem? Kamu mau ga jadi pacar aku?”“I….iya Dev, aku mau.”Terlihat sangat jelas di wajahnya senyuman lepas tanda bahagia. Tak tahu kenapa aku ikut merasa bahagia, aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku, senyuman lebar terpampang jelas di wajahku.Dua tahun kami jalani sebagai partner kerja dan sepasang kekasih. Segalanya telah kami lewati, sedih bahagia, suka duka, tangis tawa telah ku lewati bersamanya. Meski terkadang terasa lelah saat menjalani bersamanya, namun selalu ada hal yang selalu membuat kami bertahan untuk tetap bersama. Mungkin ini yang dinamakan cinta. Ketika dua insan selalu berusaha untuk tetap bertahan apapun rintangan dan bagaimanapun keadaannya.Hingga di hari yang tak ku duga, pada tanggal 14 Februari 2015 ia mengatakan bahwa tepat tujuh hari ke depan dari sekarang, ia akan datang ke rumahku dan meminta izin pada ke dua orang tuaku untuk menikahiku, yang berarti adalah melamarku untuk menjadi istrinya. Sungguh pertanyaan yang membuat jantungku kembali berdetak begitu cepat seperti kejadian dua tahun lalu. Karena ia tahu bahwa ke dua orang tuaku tidak berada di Jakarta, sehingga ia memintaku untuk mempersiapkan segalanya termasuk membawa orang tuaku ke Jakarta.
Setelah Deva menyatakan bahwa ia akan melamarku, aku langsung menghubungi ke dua orang tuaku yang berada di Surabaya untuk datang ke Jakarta. Dua hari kemudian, orang tuaku pun datang ke Jakarta dan menyampaikan perasaannya bahwa ia sangat senang karena akhirnya aku akan dipersunting oleh laki-laki yang aku cintai. Begitupun denganku, tak ada kata yang mampu mengungkapkan betapa bahagianya hatiku saat itu.Tepat tanggal 21 Februari 2015, Deva bersama keluarganya datang ke rumah kontrakanku dan bertemu ke dua orang tuaku dengan maksud untuk meminta izin menjadikanku istrinya. Aku tahu perasaannya sangat gugup saat itu, namun ia berusaha untuk bersikap sewajarnya agar segalanya berjalan lancar. Tanggal 21 Februari 2015, aku resmi dilamar oleh laki-laki yang sangat aku cintai. Keluarga kami pun sepakat untuk melangsungkan pernikahan pada tanggal 23 Mei 2015 yang bertepatan dengan hari ulang tahunku.
Sejak saat Deva melamarku, kami sudah mulai mempersiapkan segalanya. Mulai dari gedung, gaun pengantin, katering, undangan, dan semua kebutuhan yang menyangkut pernikahan kami. Tak bisa ku sembunyikan lagi perasaan bahagia ini, setelah Deva melamarku, aku merasa semakin bahagia. Aku merasa menemukan serpihan yang hilang dalam diriku sejak aku bersamanya. Aku sangat beruntung bisa bersamanya hingga saat ini, dan sebentar lagi ia akan menjadi pendamping hidupku selamanya. Menjalani hidup bersama anak-anak yang sangat lucu, membesarkan mereka hingga nantinya mereka juga akan menemukan pendamping hidup yang mereka cintai, menjalani hidup hingga akhirnya aku atau dirinya yang akan dipanggil terlebih dahulu oleh Tuhan. Ya, semoga.Dua minggu sebelum hari H, seluruh persiapan pernikahan kami sudah hampir matang. Hanya tinggal beberapa undangan saja yang belum tersebar. Tinggal menghitung hari ia akan menjadi pendamping hidupku. Menjadi imam dalam keluargaku, menjadi ayah untuk anak-anakku kelak.Karena ke dua keluarga kami merupakan keluarga yang berasal dari Jawa, maka kami tetap menggunakan adat Jawa sebelum pernikahan berlangsung, yaitu dipingit. Rasanya pasti akan sangat sulit untuk tidak bertemu dan sama sekali tidak berkomunikasi dalam satu minggu. Pasti rasanya akan rindu sekali.Sepuluh hari sebelum pernikahan kami, kami masih melakukan aktifitas seperti biasa. Tetap dengan aktifitas di kantor. Namun hari itu aku tak dapat masuk ke kantor karena tubuhku demam, mungkin karena terlalu takut sekaligus bahagiaa bahwa sebentar lagi akan menikah, entahlah. Hanya Deva yang masuk kantor hari itu. Tak tahu kenapa, sekitar pukul lima sore demamku menjadi semakin tinggi, perasaanku pun tak enak. Tak biasanya aku sakit hingga seperti ini. Padahal ibuku sudah membawaku ke klinik pagi tadi. Ya, ibuku memang sudah satu bulan di Jakarta untuk menemaniku menuju hari bahagiaku nanti. Hingga tak lama setelah demamku semakin meninggi, aku mendapatkan telefon dari teman sekantorku yang juga teman dari Deva. Ia memberitahuku bahwa Deva kecelakaan dan nyawanya tidak dapat diselamatkan.
“Dit, Deva kecelakaan tabrak lari ga jauh dari kantor. Dia meninggal di tempat.”“Hah? Lo pasti bohong kan? Ga mungkin, orang tadi sebelum pulang dia masih sms gue kok.”“Ga mungkin gue bohong soal ginian Dit, gue serius. Lo yang tabah ya.”Mendengar kabar itu, jantungku seperti berhenti berdetak. Tak ada lagi kata yang bisa ku ucap selain air mata yang mengucur deras dari mataku hingga akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi. Aku seperti berada di sebuah tempat yang indah bersama Deva, kami menghabiskan waktu bersama hingga tiba-tiba Deva melepas genggaman tangannya dariku dan perlahan pergi meninggalkanku. Aku terus memanggil namanya, hingga aku harus berteriak dan mengejarnya namun ia tetap tak menghiraukanku, ia berjalan semakin cepat hingga aku tak dapat lagi melihatnya.Hingga aku tersadar bahwa semua itu hanya mimpi, dan saat aku terbangun aku sudah berada di ruangan yang terlihat seperti kamar rumah sakit. Ya, aku sudah berada di rumah sakit. Sepertinya, tadi aku pingsan hingga ibuku membawaku ke rumah sakit dengan dibantu tetanggaku. Aku terus menanyakan di mana Deva, aku yakin ia masih ada, ia masih hidup. Tidak mungkin ia meninggalkanku, aku tau ia sangat mencintaiku. Tidak mungkin ia tak ada di saat aku sakit seperti ini, apa lagi sebentar lagi kami akan menikah. Tidak mungkin ia meninggalkanku, tidak mungkin!
“Devaaaaa!!! Devaaaaaa kamu di manaaaa?”Ibuku berusaha untuk menenangkanku, ia tak mau melihat putrinya terus menerus seperti ini.“Tenang nak, tenang. Kamu jangan teriak-teriak seperti itu, kamu masih sakit.”“Deva mana bu? Deva mana? Kenapa dia ga ada di saat aku sakit kaya gini?”“Sabar naak, kamu harus sabar. Kamu harus terima kenyataan. Kamu harus terima kalau Deva udah ga ada.”“Engga bu ga mungkin! Deva masih ada, tadi aku liat dia, kita jalan-jalan bareng di tempat yang indah buuu.”Ibuku langsung memelukku erat untuk menenangkanku. Bukan hanya aku yang menangis, ia juga menangis karena melihat keadaan putrinya yang seperti ini. Selama dua hari di rumah sakit, hanya menangis lah yang bisa aku lakukan. Tak ada makanan yang masuk ke dalam mulutku sedikitpun, rasanya tak nafsu sama sekali. Namun aku terus menerus disuntik agar tetap mendapatkan asupan obat, karena obatpun sama sekali tak tersentuh olehku. Berkali-kali ibuku berusaha membujukku agar aku bisa makan dan minum obat, namun hal itu sama sekali tidak berhasil. Hanya Deva yang ku butuhkan saat ini.Aku tahu, bukan hanya aku yang sangat terpukul atas kepergian Deva, orang tua Deva serta keluarganya juga pasti merasa sangat terpukul. Namun mereka mengerti bagaimana kondisiku saat itu sehingga aku tidak bisa datang saat pemakaman Deva. Ya, karena saat itu aku masih terbaring lemah di rumah sakit.Setelah dua hari di rumah sakit, aku pun diperbolehkan pulang oleh dokter karena demamku sudah turun. Hanya saja aku dianjurkan untuk tetap meminum obat agar demamku tidak naik lagi. Aku pulang dengan diantarkan oleh keluargaku. Sejak kejadian dua hari lalu, ayah dan adikku memang langsung datang ke Jakarta untuk menjagaku. Setibanya di rumah, aku juga masih belum mau makan. Ibuku sangat prihatin melihat kondisiku yang seperti ini. Aku juga tak tega melihatnya menangis karena melihat keadaanku, akhirnya aku pun memaksakan diri untuk memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutku. Hasilnya, hanya dua suap nasi yang bisa masuk ke dalam mulutku, namun aku memaksakan diri untuk mau meminum obat. Demi ibuku, demi keluargaku.Tiga hari setelah kepulanganku dari rumah sakit, orang tua Deva datang mengunjungiku ke rumah. Mereka turut mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepadaku atas kepergian Deva. Meski aku tahu, bahwa mereka juga masih dirundung duka atas kepergian Deva yang sangat mendadak ini. Apa lagi mengingat bahwa tinggal beberapa hari lagi kami akan menikah. Namun semua impian itu harus sirna, impian yang sudah ku rajut bersamanya untuk bisa hidup bersama, untuk bisa membesarkan anak-anak kami bersama. Semua itu harus pupus karena takdir. Ternyata Tuhan memiliki rencana lain, ia mengambil Deva sebelum kami memulai semua mimpi-mimpi itu. Semua undangan yang sudah disebar, gedung dan katering yang sudah dipesan, terpaksa dibatalkan. Mimpiku untuk menjadi nyonya Kusuma pun sirna sudah.Hampir selama satu bulan aku tak mengerjakan aktifitasku seperti biasa, hanya berdiam diri di kamar dan tak keluar rumah sama sekali. Hingga akhirnya ibuku mengingatkan bahwa aku tidak bisa terus menerus hidup seperti ini, aku harus melanjutkan hidupku meski tanpa Deva. Sangat berat memang, untuk bersikap biasa saja di balik duka mendalam yang masih aku rasakan. Aku pun memutuskan untuk memulai hidup baruku, aku menghindari segala hal yang berhubungan dengan Deva. Bukan karena aku mau melupakannya, hanya saja aku tidak ingin terus menerus berada dalam duka.
Aku memutuskan untuk memulai hidup baru dengan keluar dari kantorku yang lama, karena aku tahu sudah terlalu banyak kenangan yang aku lalui bersama Deva di sana. Aku berusaha menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan. Tak lama setelah aku menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan, aku diterima bekerja di perusahaan yang cukup besar, namun tidak seperti kantorku yang lama, kali ini jaraknya cukup jauh dari rumahku. Aku perlu berkali-kali naik angkutan umum untuk bisa sampai di kantorku yang baru. Namun semua itu aku terima demi memulai hidupku yang baru.
Aku berusaha untuk bekerja seperti biasa, aku berusaha untuk tetap profesional dalam pekerjaan bagaimanapun keadaannya. Karena perusahaan tidak mau tahu apa yang aku rasakan, yang perusahaan tahu adalah bagaimana aku bisa bekerja dengan baik dan memberikan keuntungan bagi mereka. Seiring berjalannya waktu, lambat laun aku mulai bisa mengubur kesedihanku. Berkat kesibukanku di kantor, aku hampir tak punya waktu untuk memikirkan kesedihanku.
Hingga akhirnya aku bertemu dengan laki-laki bernama Erlangga. Ia adalah temanku di kantor. Ia mulai mendekatiku seperti Deva mendekatiku dulu. Awalnya aku sama sekali tak tertarik dengannya, rasanya aku masih belum mau untuk kembali menjalin hubungan dengan laki-laki baru. Tapi aku harus melanjutkan hidupku, aku harus bisa mencari pengganti Deva. Deva memang sudah tidak ada, tapi sosoknya tak akan pernah hilang dari hati dan ingatanku, meskipun akan ada laki-laki baru dalam hidupku.
Erlangga terus mendekatiku selama enam bulan hingga akhirnya ia menyatakan cintanya kepadaku. Namun aku tak bisa langsung menjawab pertanyaannya untuk bisa menerimanya menjadi kekasih. Kurang lebih satu minggu aku berfikir, dan tentunya meminta pendapat dari ibuku. Haruskah aku menerimanya untuk menggantikan Deva. Ibuku mendukung jika memang ada laki-laki baru yang akan menjadi kekasihku. Apa lagi jika melihat keseriusannya yang sangat sabar mendekatiku hingga enam bulan lamanya, sama seperti Deva dulu. Satu minggu setelah Elang menyatakan cintanya kepadaku aku pun memberanikan diri untuk menerima cintanya. Elang memang nama biasa ia disapa.
Satu tahun sudah aku menjalani kebersamaan dengan Elang. Hingga tiba-tiba ia memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya di sebuah restoran tempat biasa kami makan. Aku sungguh kaget, rasanya seperti tak percaya. Rasanya masih sangat baru kami menjalani hubungan ini dan Elang sudah melamarku. Aku tahu, aku harus menerimanya sebagai calon suamiku. Aku tahu Elang sangat mencintaiku, ia pun selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku selama satu tahun terakhir ini. Ia juga yang sudah berhasil menghapus luka di hatiku akibat kepergian Deva. Tiga bulan setelah melamarku, kami pun melangsungkan pernikahan. Aku merasa sangat bahagia bisa menjadi pendamping hidupnya.

Aku tahu, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan makhlukNya. Walau aku harus merasakan luka yang begitu dalam, aku tahu Ia telah menyiapkan rencana indah melalui pertemuanku dengan malaikat tanpa sayap yaitu Elang


.  

Rabu, 14 Oktober 2015

Digital Communication Surya University (PENULISAN KREATIF - TUGAS KELOMPOK)

Kelompok 1: 
Billy Alexander
Caroline
Inka Putik Puspawangi
Jessica Albetari Wurangian
Kevin Loanda

Benda: Cermin
Tagline: Kaca Spion Penyelamat Kita Semua

Sinopsis

Di sebuah jalan raya dua arah terdapat sepasang kekasih bernama Ucil dan Lala yang sedang berboncengan menggunakan sepeda motor tanpa kaca spion. Di atas motor, sepasang kekasih ini sangat asik berbincang tanpa memikirkan kondisi sekitar. Mereka hanya fokus dengan pembicaraan mereka di atas sepeda motor.

Tiba-tiba, ketika sedang asik dengan perbincangan mereka, Ucil seperti melihat wanita yang mirip dengan mantan kekasihnya sedang berboncengan dengan laki-laki lain yang tepat di belakang motornya. Karena penasaran, Ucil terus menerus menoleh ke belakang untuk memastikan wanita itu benar mantan kekasihnya atau bukan. Sambil terus menoleh ke belakang, Ucil bertanya dalam hati "apa bener itu si Ria mantan gue? Kok sekarang makin cantik ya, ah jadi nyesel gue mutusin dia!" Ucil terus menerus menoleh ke belakang untuk bisa melihat wanita tersebut tanpa mempedulikan motor yang sedang dikendarainya.

Karena terus menerus menoleh ke belakang dan tidak memperhatikan jalan, Ucil tidak menyadari bahwa di depannya terdapat tukang sayur yang sedang mendorong gerobaknya, akhirnya ia pun menabrak tukang sayur tersebut hingga dirinya, kekasihnya, dan tukang sayur tersebut terjatuh. Polisi yang saat itu sedang mengamankan lalu lintas, melihat kejadian itu dan langsung menghampiri Ucil.

Polisi pun menanyakan apa yang terjadi, mengapa bisa sampai seperti ini. Setelah Ucil menjelaskan semuanya, polisi pun tahu dan langsung menahan Ucil karena ia telah membahayakan keselamatan orang lain akibat sepeda motornya tidak dilengkapi dengan kaca spion sehingga ia lalai dalam mengendarai sepeda motornya.



Treatment

Pada siang hari kita berada pada jalan raya dua arah yang ramai. Laki-laki berusia 22 tahun bernama Ucil sedang mengendarai sepeda motor bersama pacarnya Lala yang berusia 20 tahun. Mereka terlihat sedang asik berbincang-bincang.

Sambil menoleh ke arah Lala yang berada pada jok penumpang, Ucil melihat penumpang motor lain di belakangnya yang mirip dengan mantan kekasihnya bernama Ria. Ria sedang asik berbincang dengan laki-laki yang sedang berada di atas motor bersamanya. Ucil tetap menoleh ke belakang karena penasaran.

Terlihat tukang sayur sedang mendorong gerobaknya melintas di depan motor Ucil dengan pelan. Ucil masih memperhatikan motor di belakangnya. Motor Ucil dan gerobak tukang sayur pun semakin dekat jaraknya. Tukang sayur berusaha memberitahu Ucil dengan berteriak. Ucil mengembalikan pandangannya ke arah depan tetapi jaraknya sudah terlalu dekat. Ucil berusaha untuk menghentikan motornya meskipun sudah terlambat. Lala berteriak karena mereka akan menabrak gerobak tukang sayur.

Terlihat Ucil, Lala dan tukang sayur tergeletak di jalan raya. Motor Ucil dan gerobak tukang sayur juga tergeletak. Kendaraan yang berada di jalan raya berusaha untuk tetap jalan dengan menghindari kekacauan yang ada.

Polisi yang sedang mengatur lalu lintas di dekat tempat kecelakaan itu sedikit berlari menghampiri Ucil. Ucil, Lala dan tukang sayur dengan perlahan bangun untuk berdiri kembali. Polisi yang penasaran menanyakan alasan terjadinya kecelakaan itu. Ucil tampak merasa bersalah dan mengakui motornya tidak memiliki kaca spion sehingga ia harus menoleh ke arah belakang. Polisi lalu memberi sanksi berupa tahanan kepada Ucil.
Polisi mengatakan "KACA SPION PENYELAMAT KITA SEMUA"


Dialog Iklan Spion

Ext. jalan raya - DAY
Lala kekasih Ucil melambaikan tangannya ketika melihat Ucil sudah tak jauh dari pandangannya, Ucil pun  menghampiri Lala yang sedang berdiri menunggu di pinggir jalan dengan menggunakan sepeda motornya.

Long Shot
Ucil tiba tepat di sebelah Lala dengan duduk di atas sepeda motornya.

Medium Close Up
Ucil: sayang maaf ya lama. Tadi macet di lampu merah.

Medium close up
Lala: iya gapapa sayang, yaudah jalan yuk. Kok motor kamu ga ada spionnya? Bahaya loh (sambil menaiki sepeda motor Ucil).

Medium close up
Ucil: gapapa, spion ga penting. Motor aku lebih keren kaya gini.

Medium close up
Lala: hhhh yaudah deh, yang penting aku udah ngingetin. Yuk berangkat.

Medium close up
Ucil langsung menyalakan mesin motornya dan mengendarai sepeda motor dengan membonceng Lala. Di jalan mereka sangat asik berbincang-bincang.

Extreme close up (CONT'D)
Lala: sayang kamu ganteng deh hari ini.

Long shot
Ucil: masa hari ini doang sih aku gantengnya? Aku kan emang tiap hari ganteng (dengan gaya bicara sombong).

Long shot
Lala: ah dasar kamu bisa aja! (sambil menepuk pundak Ucil) iyaa kamu emang tiap hari ganteng, tapi hari ini lebih.

Medium close up
Ucil: makasih sayaaang (lalu menarik tangan Lala yang sedang memeluk pinggulnya dan menciumnya).

Medium close up
Di belakang motor Ucil ada motor yang sulit untuk melewatinya karena ia mengendarainya dengan ugal-ugalan.

Long shoot
Tiba-tiba saat sedang asik berbincang sambil bermesra-mesraan dengan Lala, Ucil tersadar bahwa ia baru saja melewati mantan kekasihnya Ria. Namun ia tidak terlalu yakin dengan hal itu, karena wanita yang ia lihat itu jauh lebih cantik dari mantan kekasihnya dulu. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Ucil pun terus menerus berusaha menoleh ke belakang.

Medium close up
Lala: sayang kamu ngapain sih nengok ke belakang terus?

Medium close up
Ucil: engga, gapapa sayang itu kaya temen lama aku.

Medium close up
Lala: hah yang mana? (sambil menoleh ke belakang)

Long shot
Ucil: aduuuh, kamu awas dong kepalanya. Aku ga keliatan niih.

Medium close up
Lala: iiiih kamu ngeliatin apaan sih? Jangan nengok ke belakang terus doong! Aku takut niiih.

Long shoot
Ucil: bentar sayaang, itu kaya temen lama akuuu. Aku mau liaat.

Medium close up 
Lala: lagian kamu sih motornya ga pake spion, jadi nengok ke belakang terus kaaan.

Medium close up
Karena terus menerus menoleh ke belakang, Ucil tidak menyadari bahwa di depannya terdapat tukang sayur yang sedang melintas dengan membawa gerobak sayurnya.

Long shot (CONT'D)
Lala: sayang awaaaaas!!!

Medium close up
Ucil semakin kagok mengendarai sepeda motornya hingga akhirnya ia menabrak gerobak sayur beserta tukang sayur tersebut.

(efek suara Gubraaaaakkk!!!!)

Medium close up (CONT'D)
LaLa: aduuuuuuh, kaki akuuuuuu.

Medium close up
Ucil: siaaaaal, gue jadi nabrak tukang sayur gara-gara ngeliatin si Ria (bicara dalam hati).

Long shot
Tukang sayur: gimana sih lu tong! Naik motor yang bener dooong! Jangan meleng! Sekarang liat nih sayur gua berantakan semua. Ganti rugi lu tong!

Medium close up
LaLa: kamu siiih nengok ke belakang terus, kita jadi nabrak kaaan. Kaki aku sakit banget niiih.
Tukang sayurnya juga sakit tuh pasti.

Medium close up
Ucil: kok kamu jadi nyalahin aku sih? Lagian kamu bukannya ngasih tau aku kalo di depan ada tukang sayur.

Medium close up
Lala: kamu tuh ya, udah motor ga ada spion, ngendarain motornya nengok ke belakang terus, sekarang giliran udah jatoh malah nyalahin aku.
Medium close up
FADE TO BLACK.

Melihat kejadian tersebut, polisi yang sedang mengamankan lalu lintas pun langsung datang menghampiri Ucil, Lala dan tukang sayur.
Polisi langsung membantu mengamankan Ucil, Lala, dan tukang sayur yang jatuh beserta sepeda motor Ucil dan gerobak sayurnya ke pos jaga polisi.

Ext. pos polisi - DAY

Polisi: ada apa ini? Mengapa bisa terjadi seperti ini?

Medium close up
Tukang sayur: ini nih pak, ini bocah bawa motornya kaga bener! Masa bawa motor malah nengok-nengok ke belakang, jadi saya ketabrak kan.

Medium close up
Ucil: anu pak anu, saya ga sengaja.

Medium close up
Polisi: kamu kenapa mengendarai motornya menoleh ke belakang terus? Itu sangat membahayakan bagi diri kamu dan orang lain di sekitar kamu. Saya lihat, motor kamu juga tidak ada kaca spionnya ya. Kamu sudah melanggar UU Lalulintas Pasal 285 Ayat (1). Kamu akan saya tahan dan bisa saja saya pidanakan kurungan satu bulan atau denda paling banyak Rp250.000.

Medium close up
Ucil: jangan dong pak jangan, saya ga mau di penjara.

Medium close up
Polisi: kamu akan tetap saya tahan karena kamu sudah melanggar lalu lintas dan membahayakan keselamatan pengguna jalan lain. Kamu juga harus bertanggung jawab kepada bapak tukang sayur yang kamu tabrak.

Medium close up
Tukang sayur: ganti rugi lu tong! Sayuran gua jadi rusak semua tuh! Ga bisa dijual lagi!

Medium close up
Ucil: mampus gueee, gara-gara ga pake spion semuanya jadi berantakan.

Medium close up
Polisi:
patuhilah UU Lalulintas dan jadilah pengguna jalan yang baik demi keselamatan anda dan orang lain. KACA SPION PENYELAMAT KITA SEMUA

Medium close up-long shot

FADE TO BLACK.

Digital Communication Surya University (PENULISAN KREATIF - TULISAN DESKRIPSI)

Ruang Nyaman di Koridor F

Aku datang ke kampusku untuk menjalani aktivitasku seperti biasa. Tak ada yang berubah, tak ada yang spesial saat aku kembali menginjakkan kaki di kampus tercinta ini. Aku berjalan menyusuri anak demi anak tangga hingga aku sampai di tingkatan yang biasa disebut lantai dua. Sesampainya di lantai dua aku berjalan menuju ruangan yang bernama 202F yang berada di koridor F di lantai tersebut. Aku sempat kebingungan mencari di mana ruangan itu berada.
Aku berjalan menyusuri satu persatu koridor demi koridor kotak yang ada di lantai dua. Hingga akhirnya aku berhenti pada pencarianku ketika aku melihat dari depan pintu kaca bening ada benda persegi panjang coklat yang di depannya bertuliskan angka dan huruf 202F. Melihat angka dan huruf yang terpampang di depan benda berbentuk persegi panjang berwarna coklat itu, aku langsung berjalan menuju ruangan itu. Setelah sampai di depan benda persegi panjang berwarna coklat yang biasa disebut pintu itu, aku pun membuka gagang pintu tersebut dengan tangan kananku lalu mendorong tubuh pintu tersebut hingga terbuka.
Saat pintu ruangan itu terbuka, hati ini cukup tercengang melihat sudah banyak makhluk hidup yang duduk di kursi hijau hitamkhas kampusku yang sudah tersedia. Pada awalnya, aku sempat bingung di mana aku harus meletakkan tas dan menyandarkan punggung ini, akhirnya aku memilih untuk duduk di kursi yang berada di barisan ke tiga dari depan. Kaki ini berjalan menuju barisan kursi yang cukup sempit itu hingga harus membuat tubuh ini memiringkan posisinya.
Akhirnya tubuh ini bisa ku sandarkan di kursi hijau hitam nan empuk ini sembari meletakkan tas tepat di bawah kursi tempatku duduk. Aku langsung menyandarkan punggung ini di kursi hijau hitam khas kampus sambil memerhatikan seisi ruangan itu. Maklum saja, kala itu adalah kali pertamaku memasuki ruangan tersebut. Ruangan tersebut tentunya dipenuhi dengan puluhan kursi hijau hitam nan empuk yang terjajar rapi membentuk barisan hingga lima barisan yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk menyandarkan punggungnya pada saat belajar maupun istirahat.
Suasana kelas yang cukup ramai karena jam belum menunjukkan jarumnya di angka delapan makhluk hidup yang berada di dalam ruangan pun masih asik bersenda gurau dan berbincang mengenai hal apapun yang ingin mereka bicarakan. Dengan papan tulis putih bersih yang belum ternodai oleh tinta dari spidol hitam yang biasa digunakan oleh dosen saat mengajar. Serta tidak lupa jam dinding yang selalu setia menempel di sisi kanan papan tulis putih nan bersih itu. Tentu tidak ketinggalan pula seperangkat komputer yang terdiri dari pc, cpu, keyboard, dan mouse terjajar rapi di sudut kanan ruangan. Proyektor yang tidak pernah mengeluh karena selalu digantung di tengah langit-langit ruangan. Jendela kaca bening yang berada tepat di belakang ruangan sebagai pengganti tembok pun membuat ruangan mendapatkan cukup pencahayaan sehingga ruang tersebut tidak perlu lagi menggunakan penerang ruangan yang disebut lampu. Suhu di ruangan yang cukup dingin membuat makhluk hidup yang ada di dalamnya merasa nyaman dan tidak perlu lagi berkeluh kesah mengenai panasnya suhu ruangan.
 Aku selalu merasa sangat nyaman ketika berada di ruangan ini. Belajar bersama teman sekelasku dengan sesekali mengeluarkan gelak tawa akibat perbincangan yang kami perbincangkan bersama dengan dosen. Hingga tidak terasa jam dinding sudah memperlihatkan jarumnya yang menunjuk angka sepuluh menunjukkan waktu belajar pun telah usai. Tubuh ini harus segera beranjak pergi dari ruangan tersebut karena masih ada lagi makhluk hidup lain yang akan merasakan suasana nyaman dari ruangan tersebut.

Rabu, 05 Juni 2013

MIB~

Di postingan terakhir aku kemarin, aku nulis tentang kamu. Dan kali ini, aku mau nulis tentang kamu lagi. Tapi kamu yg berbeda. Yap, kata Kamu itu mengundang banyak arti dalam hidup aku.

Kamu yg akan aku tulis kali ini itu, adalah kamu yg sangat berbeda dengan yg dulu. kamu yg dulu adalah kamu yg selalu membuat aku sedih dan menangis, yg selalu membuat aku down dan galau. Tapi kamu yg sekarang adalah kamu yg sudah merubah tangis aku menjadi tawa, kamu yg sudah merubah sedih aku menjadi bahagia, dan kamu yg sudah berhasil mengembalikan senyum aku yg dulu sempat hilang. Terima kasih untuk kamu yg sekarang :)
aku sangat bersyukur karna aku bisa mengenal kamu. Allah mempertemukan aku dan kamu di saat yg sangat tepat. Di saat dimana aku sedang benar-benar jatuh dan kamu datang untuk membangkitkan aku, mengembalikan semangat hidup aku, kamu datang untuk menghadirkan senyum di hidupku yg sempat hilang. Ga pernah aku sangka sebelumnya aku bisa sedekat ini sama kamu. Kamu yg sejak dulu kelasnya berada di samping kelas aku, tapi aku tidak pernah sadar bahwa keberadaan kamu begitu dekat dengan aku. Bahkan waktu kelas kita bersebalahan pun aku tidak mengenal kamu. Hanya sekedar mengenal nama dan wajah.  
Hari itu, tepatnya tanggal 19 Desember 2012 dan hari itu bertepatan dengan uas semester ganjil di sekolah. Aku melihat kamu sedang berjalan di koridor sekolah yg baru kembali dari toilet, dan tanpa fikir panjang aku yg sedang berada tepat di depan kolam langsung menyapa kamu yg saat itu sedang lewat (P: "haloo ka imam :D" | I: "iyaa :)" | P: "lagi ngerjain tugas ya kak?" | I: "iya, kalian juga ya?" | P: "iya kak, kaka lg ngerjain tugas apa?" | I: "kimia, kalian ngerjain tugas apa?" | P: "tugas plh kak, oyaudah semangat ya kak :D" | I: "iya kamu juga ya, kaka duluan ya de :)") Entah ada angin apa yg membuatku bisa menyapamu saat itu, hehe. Saat aku menyapamu, kamu balik menyapaku dengan sangat ramah. Pada saat itu, perasaanku memang biasa aja dan ga ada yg spesial dari percakapan singkat itu. Tetapi, pada hari itu aku memang sedang galau-galaunya. Galau karena “kamu” yg pernah aku tulis di postingan sebelumnya. Yap, pada hari itu aku benar-benar galau sampai akhirnya pada waktu malam sekitar jam7 aku membuka jejaring sosial facebook, dan pada saat baru membuka tepat di bagian beranda paling atas “kamu” yg pernah aku tulis sebelumnya menuliskan relationshipnya dengan perempuan lain. Pada saat melihat itu, perasaanku campur aduk. Sedih, galau, marah dicampur nangis dan aku gatau harus berbuat apa. Pada saat itu juga aku sms beberapa sahabatku yaitu tami, astri, dan jony. Karena aku tidak kuat berada di rumah dan takut ketahuan orang tua bahwa pada saat itu lagi nangis, aku langsung berinisiatif untuk pergi ke rumah tami dengan alasan belajar bersama. Setelah meminta izin orang tua akupun langsung bergegas kerumah tami dan sesampainya disana aku langsung menceritakan apa yg sudah terjadi. Disana aku menangis sejadi-jadinya. Dan pada saat aku menangis, tami memberikanku saran dan jalan keluar. Ia menyuruhku untuk melupakan “kamu” dan mencari pengganti “kamu”. Pada saat itu aku berfikir cara itu tidak akan berhasil. Tapi tami akhirnya menyadarkanku bahwa laki-laki memang bukan hanya “kamu” dan aku tidak pantas untuk terus menerus menangisi laki-laki semacam “kamu”. Sepulang dari rumah tami aku berfikir, siapa yg bisa aku jadikan pengganti “kamu”. Dan akupun teringat sama kamu yg tadi sore aku sapa waktu di sekolah. Keesokannya, aku meminta nomer handphone kamu dari salah satu teman sekelas kamu. Selang 2 hari, aku sudah mendapatkan nomer kamu dan aku langsung mencoba sms kamu. Pada saat pertama kali aku sms kamu, respon kamu baik tetapi sangat cuek. Ya aku positif thinking aja, mungkin dia cuek karna memang belum kenal. Semakin hari semakin lama, respon kamu semakin baik sama aku. Dan aku merasa, mulai ada chemistry sama kamu. Kamu pun berhasil membuat aku melupakan “kamu” yg dulu. kamu  juga berhasil menghapus air mata aku dan mengembalikan senyum aku. Dan sekarang aku sadar, bahwa sapaan aku pada saat itu ke kamu adalah awal dan jawaban dari segalanya. Kalau pada waktu itu aku tidak menyapa kamu, mungkin sekarang aku dan kamu tidak akan sedekat ini, dan mungkin saat ini aku masih terpuruk dengan masa lalu aku karna aku tidak mengenal kamu. Aku bener2 ga nyangka, Allah mempertemukan kita dengan caranya yg sangat unik. Percakapan singkat yg awalnya aku anggep ga penting itu, malah justru sekarang jadi penting banget karna dari situlah aku bisa mengenal kamu.
Terima kasih ya Allah, telah mempertemukan dan mendekatkan aku dengan kamu di saat yg tepat :)
Aku percaya, dibalik sesuatu yg sudah Allah tentukan untuk kita pasti akan ada hikmahnya. Dan Allah sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kita itu indah pada waktunya :)


Thankyou somuch Bas! Iloveyou :* {}

Selasa, 04 Desember 2012

You!

sebelum kamu membaca ini, silahkan kamu putar lagu Peterpan "Cobalah Mengerti" versi Sean atau Momo Geisha dan kamu akan merasakan aku ada dihadapanmu.

kamu, kamu adalah kamu. kamu adalah aku, kamu adalah nafasku, kamu adalah jiwaku, kamu adalah separuh hidupku. kata-kata ini mungkin memang agak terdengar berlebihan, tapi memang ini yg aku rasakan sama kamu. tanpa kamu aku lemah, tanpa kamu aku galau, tanpa kamu aku rapuh, dan seperti hilang arah.
mungkin memang saat ini adalah masanya untuk aku sangat-sangat mencintai kamu, tapi aku yakin suatu saat nanti pasti akan ada masanya aku bisa melupakan kamu dan menjadikan kamu sebagai kenangan dalam hidup aku.
pertama kali aku ketemu kamu, apa yg aku rasakan? aku merasa aku langsung jatuh cinta sama kamu. ya mungkin bisa dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama. sekolah lah yg mempertemukan kita, sekolah juga lah yg menumbuhkan rasa cinta ini sama kamu. thank's a lot for my senior high school!
mungkin aku memang masih terlalu kecil untuk mengerti yg namanya cinta, tapi aku merasa kamu adalah orang pertama yg berhasil membuat aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. ini memang bukan pertama kalinya aku suka atau sayang sama seseorang, dulu waktu SMP aku pernah suka atau bahkan mungkin bisa dibilang sayang dengan seorang kakak kelas selama hampir 2 tahun, tapi perasaan itu berbeda dengan apa yg sekarang aku rasakan sama kamu.
untuk saat ini, kamu adalah salah satu orang yg selalu membuat aku bahagia, sedih, dan menangis. karena bahagia aku ada di kamu, dan sedihnya aku juga ada di kamu.
kamu tau? aku sangat lelah mencintai kamu! aku lelah berada di antara kamu, mantan kamu, serta adik-adik kelas yg suka sama kamu. 1 setengah tahun bertahan sama kamu yg ga pernah ada kepastian sama aku membuat aku lelah. aku sempat merasa bersalah karena menjadi perusak hubungan kamu sama mantan kamu, dan itu membuat aku cukup tertekan. terkadang aku merasa, berada di dekat kamu adalah hal yg salah. tapi untuk jauh dari kamu pun aku ga sanggup. selama hampir satu tahun kamu menjadikan aku adik angkat, membuat aku terbang dan merasa sangat bahagia saat itu. namun pada akhirnya kita harus mengakhiri hubungan itu dan tidak lama kemudian kamu menjadikan aku kekasih kamu, dan belum sampai 2 bulan dengan sangat berat hati aku harus memutuskan kamu karena banyak hal yg membuat aku ga bisa bertahan lagi sama kamu. kamu benar-benar menyakiti aku saat itu, sehingga ga ada jalan lain selain aku harus memutuskan kamu. baru sehari aku memutuskan kamu, kamu kembali lagi ke aku dengan segala rayuan-rayuan kamu yg semakin membuat aku ga sanggup untuk jauh dari kamu. disaat aku memiliki kamu, aku benar-benar merasa bahagia. tapi kamu menghancurkan kebahagiaan ku itu dengan segala caramu. dan disaat aku sudah memutuskan kamu dan tidak memiliki kamu, kamu datang lagi dan membuat aku semakin bingung. berulang kali kamu lakukan itu, kamu menarik ulur hati aku. kamu membuat aku terbang, lalu kamu jatuhkan lagi. aku memang sakit, tapi aku berusaha untuk bertahan dan menjalani semuanya. karna memang tidak ada jalan lain yg bisa aku lakukan. bagaimana bisa aku jauh dari kamu yg begitu baik sama aku walaupun berulang kali aku harus sakit karna kamu. bagiku, kamu jahat. tapi, sejahat apapun kamu sama aku, aku tetap tidak bisa menjauh apa lagi melupakan kamu.
mencintai kamu, menjadi warna tersendiri dalam hidup aku, walaupun sangat banyak lika - liku yg aku hadapi saat aku bersama kamu. aku ga pernah menyesal karena pernah mencintai kamu, aku bahagia karena kamu sudah mengajarkan aku banyak hal. kamu mengajarkan aku arti mencintai, dicintai, menyakiti, dan disakiti. mencintai kamu, menjadikan aku manusia yg lebih sabar dan kuat dalam menjalani hidup.
walaupun terkadang aku mati rasa saat kamu menyakiti aku, tapi aku bahagia karna aku masih tetap bisa bersama kamu sampai saat ini walaupun ga bisa milikin kamu. buat apa memiliki kamu kalo aku ga bahagia? toh, dengan aku ga memiliki kamu aja udah membuat aku sangat bahagia saat ini, ya walaupun memang kadang aku lelah karna aku merasa digantung. tapi tidak ada yg aku bisa lakukan selain menjalaninya.
terima kasih karna kamu membuat hidup aku lebih berwarna, terima kasih karna kamu sudah mengajarkan aku banyak hal :)
dan sebelum aku akhiri tulisan di blog ini, aku cuma mau bilang "Love you {}"

All About P2



P2, P2 adalah nama suatu kelas yg ada di salah satu bimbingan belajar yg bernama Nurul Fikri yg bertempat di THB.
P2 terdiri dari:
1. Alifia Putri Arfitri
2. Allan Chandra Bayuaji
3. Andhika Rama Zahfassya
4. Athif Fathul Hadi
5. Citra Oktaviani
6. Faris Rasis Marami
7. Fernandha Dyah
8. Ifan Mulia Alanhudi
9. Indri Eka Christiani
10. Inggrit Alifia
11. Inka Putik Puspa Wangi
12. Luthfi Kamilah Zahrah
13. Marini Zatil Aqmar
14. Muhammad Faishal Putra Pratama
15. Pradito Indra Darmawan
16. Prasena Perdana Kusuma
17. Sandora Nurgita Prahara
18. Syafira Arianti
19. Syahid Ahmadi
20. Siti Rahma Hamidah
 Gue pertama kali masuk ke dalam kelas itu pada tanggal 23 Juli 2010. Pertama kali masuk kelas itu, anak2nya biasa aja, tapi lama kelamaan kita saling kenal dan deket. Bahkan ada yg cinlok juga.
P2 adalah kelas yg gila, gokil, konyol, freak, berisik, rame, seru, dan asik.
 Setiap anak punya ciri khas masing2, Citra yg dijulukin anak paling alay, Ifan yg selalu bertingkah aneh dan lebay  tapi  gokil, Faris yg suka ngupil, Luthfi yg bawel tapi cantik, Marini yg pinter dan baik, Dito yg ngelucu tapi malah ga lucu, Faishal yg asik,  Allan yg selalu galau, Syahid  yg beler, Rahma  yg cantik, Dhika yg ganteng tapi hombreng, Fira yg imut, dan  Athif yg (katanya) terdiam dan teralim, dan masih banyak lagi ke ciri khas an yg lain.
Setiap ketemu P2, pasti gue ketawa, dan gue rasa anak2 yg lain juga merasakan hal yg sama, karena setiap les, ada aja tingkah setiap anak yg bikin kita ketawa. Anak2 cowo P2 selalu punya banyolan yg ga bakal bikin kita bosen. Lagi TO pun, mereka tetep ngelucu tanpa da rasa malu sekalipun lagi ada guru. Apa lagi Ifan, dia ga pernah bisa diem, ngomong mulu, dan tingkah yg dia lakuin hampir selalu bikin orang ketawa. Makanya dia dapet angket tergokil. Kalo Faishal sama Allan soulmate banget tuh, mereka selalu bareng dan kayanya ga terpisahkan. Faishal juga gokil, dan dia juga asik banget kalo di ajak ngobrol. Kalo Allan, gue liat sih dia selalu galau kalo di kelas, merenung memikirkan sesuatu dan kayanya yg difikirin orangnya masih satu kelas. Kalo Sena sama Dhika udah kaya sepasang sejoli yg ga bisa dipisahin, kalo dikelas mereka mesra banget lagi, kaya orang pacaran, bahkan bisa melebihi orang yg pacaran, hehe. Athif sih jarang ngomong, makanya dia dapet angket terdiam. Faris kalo lagi diem mukanya beler banget udah gitu di kelas ngupil lagi. Kalo Dito, setiap ngelucu pasti jatohnya ga lucu, makanya dia dapet angket  terjayus.
Kalo yg cewe gimana ya? Hhmm, kalo di P2 anak cewe yg paling menonjol kayanya Citra deh, soalnya dia cewe yg paling banyak dapet angket, dan kebanyakan angketnya ga ngenakin. Citra kalo di kelas bawel banget, udah gitu kalo ngomong lebay dan maaf yah, tulisannya alay dan gayanya bopung. Hhmm, ini bukan kata gue doang lho, tapi kata2 anak2 yg lain juga. Makanya dia dapet angket teralay, terbopung, dan terlebay. *maaf ya cit, ga ada maksud menghina kok*. Luthfi, dia cantik dan bawel. Yah, sesuai angketnya. Dia emang salah satu cewe paling cantik di P2, tapi bawel banget, hehe. Rahma, dia cantik. Manis pula. Rahma lengkap nih, udah cantik, manis, baik, juga pinter. Walaupun kepinterannya masih kalah sama Marini, hehe. Marini, dia adalah master di kelas kita. hampir semua pelajaran dia bisa, kalo ngerjain TF aja, gue suka nyontek sama dia. Marini pinter dan baik, karna kalo ada orang yg nanya sama dia, dia ga pelit, selalu dikasih tau. Kalo anak2 cewe yg lain kayanya netral deh, gak cantik, gak juga jelek. Sebenernya semuanya cantik kok, Cuma mungkin  kecantikannya masih kalah aja sama Luhfi dan Rahma. Dan semua anak cewe P2 baik yg pasti. Kita selalu saling berbagi setiap ada soal yg susah dan setiap ada makanan, hehe.
Yap! P2 memang beragam, masing2 anak punya ciri khas yg berbeda2 dan justru itu yg bikin kelas ini seru,
Bisa dibilang, P2 kompak. P2 perusak,  P2 saling berbagi. Dan P2 hombreng.
Kompak karena kayanya Cuma kelas kita doang yg ada angket, ada acara perpisahan, dan katanya mau ada reuni.
Perusak karena banyak alat2 kelas yg rusak sama P2. Dari mulai papan tulis, tralis jendela, dan gagang pintu.
Saling berbagi karena setiap ada yg punya makanan hampir satu kelas kebagian.
Hombreng karena anak2 cowo P2 ga ada yg bener, mereka semua gila, gokil, tapi asik. Hampir semua anak cowo bisa dibilang hombreng, paling Cuma beberapa aja yg ga. Yg hombreng diantaranya Dhika sama Sena, Faishal sama Allan, Faris sama Ifan, dan  Syahid sama Faishal. Yg ga hombreng kayanya Cuma Athif dan Dito.
Banyak kejadian2 P2 yg ga terlupakan. J
Yg gue inget dan gue bisa ceritain adalah:
*P2 ngerusakin papan tulis.
Sebenernya papan tulisnya ga rusak sih, Cuma jatoh dari tempat papan tulisnya bersandar. Pada waktu itu, pelajaran Bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia yaitu ka Kinan, nyuruh kita bikin kelompok yg berjumlah 4 orang untuk ngebahas soal. Masing2 kelompok kebagian untuk menjawab 10 soal dari 40 soal. Kelompok yg salahnya paling sedikit  adalah pemenangnya dan bakalan dapet hadiah dari ka Kinan dan juga joget di depan kelas. Dan kebetulan, yg menang waktu itu adalah kelompoknya Ifan, Andhika, Allan, dan Faishal. Pada waktu mereka berempat lagi asik joget Cinta Satu Malam, tiba2 papan tulis yg ada di belakang mereka jatoh. Seketika itu juga suasana kelas yg udah kacau jadi tambah kacau. Seluruh isi kelas ketawa ngakak ngeliat kejadian itu. Sampe2, kaka yg ada dibawah naik dan masuk ke kelas karena suara papan tulis yg jatoh kedengeran sampe bawah. Pada waktu kakanya menanyakan kejadian yg terjadi “ada apaan kok papan tulisnya sampe jatoh?” Faishal  dan Ifan nyamperin kaka itu lalu Faishal menjawab dengan muka sok melas “kak, maafin kita kak, jangan bawa kita ke KUA” gue yg liat Cuma bisa ketawa ngakak liat kejadian itu. Gak lama setelah itu, bel pun berbunyi yg menandakan waktu pulang. Kita semua pun keluar dari kelas lalu turun ke bawah terus menyalakan motor dan pulang ke rumah masing2.
*P2 main super game ala kadarnya
Waktu itu, pelajaran matematika. Guru yg mengajar matematika masuk ke dalam kelas lalu membagikan Tes Formatif. Setelah membagikan soal, gurunya keluar. Pas gurunya keluar, suasana kelas langsung berisik. Dari sekian banyak oramg yg ada di dalem kelas, Cuma beberapa orang doang yg ngerjain TF itu, karena emang bisa dibilang TF itu susah. Dan gue termasuk orang yg males ngerjain TF itu dan akirnya gue  Cuma bisa pasrah sambil ngeliat anak2 cowo yg pada waktu itu main supergame, mereka main supergame dengan ala kadarnya. Aslinya kalo di TV, super game itu kan ada kacanya, tapi yg ini gak, mereka buat seolah2 diantara mereka itu ada kaca. Orang yg lagi nungguin giliran buat dikasih tau liriknya apa, joget2 Cinta Satu Malam dengan sadarnya. Gue yg liat ngakak sengakak2nya liat tingkah mereka. Pas lagi asik main supergame, tiba2 gurunya masuk kelas. Mereka yg lagi main seketika menghentikan permainannya. Gurunya masuk Cuma buat nulis jawaban TF nya di papan tulis abis itu langsung keluar lagi. Gue rasa, dia tau apa yg kita lakuin selama di dalem kelas dan  dia ngambek sama kita karna kita mengabaikan TF nya, ga lama setelah gurunya keluar, bel pun nberbunyi menandakan waktu pulang. Kita semua pun keluar dari kelas dan pulang ke rumah masing2.
*P2 bikin angket
Waktu itu,  adalah sehari sebelum hari terakhir kita les. Temen gue fira ngajakin bikin angket P2. Okey, gue iyain. Dan pas gue nyampe tempat les, gue bilang sama anak2, “eh, bikin angket yuk!” tapi anak2 cowo gak menanggapi dengan baik. Karna berkali-kali ngomong dan terus menerus ga ditanggepin, jadi gue dan anak2 cewe yg lain memutuskan buat bikin angket  tapi anak cewenya aja, pasti bakal ga seru. Jadi mau ga mau kita paksa anak cowonya untuk tetep ikut angket. Angket yg kita bikin waktu itu adalah, tercantik, termanis, terimut, terganteng, terbawel, terbopung, teralay, tergokil, terasik, terlebay, terbeler, terberisik, terjayus, terhombreng, teralim, terdiam, tercerdas, terbaik, dan tergalau. Karna udah banyak waktu yg terbuang sia2 pas istirahat, jadi terpaksa kita pake jam pelajaran biologi, untung aja ka Senja ngizinin kita buat ngelanjutin angket. Pas pemungutan suara, gue yg ngitung. Pas baca masing2 tulisan, gue ketawa. Soalnya isinya macem2, yg harusnya tercantik diisi buat cewe, tapi malah buat cowo. Yg gue inget adalah. Angket tercantik diisi dengan prasena dan andhika, angket teralim ada yg ngisi ”gue” *ya allah, pede amat itu orang*
Yg dapet angket waktu itu diantaranya adalah:
Tercantik: Rahma & Luthfi
Terganteng: Andhika
Terasik: Faishal
Terbawel: Luthfi
Terimut: Syafira
Termanis: Rahma
Terlebay: Ifan & Citra
Tergokil : Ifan
Teralay: Citra
Terhombreng: Andhika & Faishal
Teralim: Athif
Terdiam: Athif
Tercerdas: Marini
Terbaik: Marini
Tergalau: Allan
Terbeler: Syahid
Terberisik: Ifan
Terjayus: Dito
Terbopung: Citra
Yg diledekin waktu itu adalah Andhika dan Athif.
 Kata faishal “dhika, udah keren2 terganteng, tapi terhombreng”
Kata Ifan “hah? Athif teralim dan terdiam? Ga salah tuh?! Itu kan harusnya gue! Gue si ga yakin, luarnya aja alim, padahal dalemnya?”
Dan setelah selesai pemungutan suara, pelajaran pun dilanjutkan dengan sisa waktu yg ada.
Tadinya, gue mau ngasih hadiah ke Ifan, karena Ifan dapet angket paling banyak, aslinya Ifan dapet angket 4, tapi gue lupa satu lagi angketnya apa, hehe. Tapi karena hadiah yg mau gue beli ga ada, jadinya batal deh.
Keesokan harinya, kita bikin penghargaan buat anak2 yg dapet angket. Semacam piagam gitu.
Dan karna hari itu adalah hari terakhir kita les di NF, jadi anak2 P2 pada ngajakin jalan2 dulu buat perpisahan. Tapi sayang, ga semuanya ikut. Soalnya ada sebagian anak yg udah pulang. Yg waktu itu ga ikut adalah Faris, Athif, Ifan, dan Sena.
Waktu itu kita sempet bingung mau jalan kemana, mau ke Pop Ice Mahkota pada ga punya uang. Jadi kita memutuskan untuk ke patung kuda, dan sesampenya disana, kita foto2 bareng, Cuma si Said yg ga mau diajak foto. Sampe gue paksa pun dia tetep ga mau. Kita foto2 disana sampe jam5 sore. Setelah jam5, akhirnya kita pun memtuskan untuk pulang karna hari udah sore. Dan pas pulang, kayanya ada yg seneng banget tuh. Sampe2 dia nulis status “hari ini gue seneng banget” Yaitu Allan, karena pas pulang dia boncengan sama Luthfi. Yg pas berangkat Allan naik motornya ngebut banget, pas pulang dia berubah jadi yg paling lama naik motornya. Hhmm, pasti gara2 lagi bawa Luthfi tuh.
Yap! Itulah pertemuan terakhir gue sama anak2 P2 dan sampe sekarang gue belum ketemu lagi sama mereka.
Ayo ayo, kita reunian! :D
ini adalah beberapa foto kenangan saat di P2 :')


















sekian cerita singkat mengenai P2, semoga di lain waktu dan kesempatan kita dapat bertemu lagi :) miss you guys :'D {}

Short Story About RAVACHIP

ini adalah cerita tentang sejarah terbentuknya RAVACHIP. apa itu RAVACHIP? mari kita bahas disini.
CEKIDOT!

terbentuk tanggal 21 November 2010 dan dibubarkan tanggal 30 Januari 2011
yg terdiri dari -->
R = Rodillah
A = Aris
V = Vina
A = Arum
C = Citra
H = Hanny
I = Icha
P = Putik

yah, sangat singkat tapi sangat berkesan. (buat gue, tapi gatau deh kalo buat yg laen)
nama itu dibuat oleh sahabat gue Hanny waktu lagi masak2 di kelompok 3 untuk acara makan2 remaja dalam rangka qurban.
pada saat itu, kami yg terdiri dari gue(putik), Hanny, Vina, Citra, Arum, mba Anna, mba Tia, dan mba Nita yg sedang sibuk menusuk daging ke tusukan sate, dan tiba2 Hanny bilang "eh, kita bikin RAVACHIP yuk!" dan gue jawab "ha? RAVACHIP apaan?" Hanny menjawab lagi "R = Rodillah, A = Aris, V = Vina, C = Citra, H = Hanny, I = Icha, P = Putik" dan gue jawab lagi "oh, yaudah. bikin aja. bagus namanya. :)"
dan, mulai saat itulah rebentuk nama RAVACHIP.
jauh sebelum nama RAVACHIP terbentuk memang kami sudah bersahabat, tapi gak semuanya sih. cuma gue(putik), Hanny, Vina, dan Citra aja. kami memang dari kecil sudah dekat dan bersahabat.
Arum, kenapa Arum bisa ada di dalam RAVACHIP juga? karna, dia adalah sepupu gue yg tinggal di rumah gue dan selalu ikut kemanapun gue pergi, termasuk kalo gue ada moment kumpul2 sama sahabat2 gue, jadi dia ikut deket juga sama sahabat gue. ya mungkin emang karna sering ketemu dan ngobrol di sekolah juga sama Vina dan Citra, jadi pas dipertemukan lagi di lain tempat udah ga canggung dan langsung bisa beradaptasi.
Icha, alasan Icha juga ada di RAVACHIP adalah. karena, Icha salah satu sahabatnya Arum yang setiap hari selalu anter jemput Arum sekolah, jadi dia deket sama gue, karna tiap hari ketemu gue di rumah. dan sampe pada akhirnya, gue dan sahabat2 gue bikin acara bakar2 ayam di rumah gue, dan pada saat itu, Arum ngajak Icha untuk ikut juga ke acara bakar2 itu. jadilah Icha tambah deket sama gue dan sahabat2 gue.
Aris, jauh sebelum RAVACHIP terbentuk emg gue dan sahabat2 gue udah kenal baik sama Aris, dan bisa dibilang lumayan deket, dan karena kebetulan Aris itu adalah (mantan) pacarnya Hanny, jadi Aris sering diajak Hanny buat ikut kalo gue sama sahabat2 gue lagi ada acara, ya mungkin biar bisa sekalian temu kangen atau ngedate, haha.. dari pada ngedate berdua dosa, jadi mendingan ngedate rame2, hehe.. jadinya, karena Aris sering ikut kalo gue lagi ada acara sama sahabat2 gue, dia jadi tambah deket sama gue dan sahabat2 gue.
Rodillah, alasan kenapa Rodillah bisa ada di RAVACHIP karena. Rodillah adalah salah satu sahabatnya Aris. karena kalo ada moment gue sama sahabat2 gue Aris diajak, Aris ngajak Rodillah buat ikut juga. soalnya, biar Aris gak cowo sendiri, jadi dia ada temennya. nah, karena sering diajak Aris buat ngumpul bareng gue dan sahabat2 gue, Rodillah jadi deket sama gue dan sahabat2 gue.
Dari persahabatan gue yg awalnya cuma berempat, berkembang jadi berlima karena Arum sering ikut. dari berlima, berkembang lagi jadi bertujuh karena Aris sama Rodillah juga sering ikut, dari bertujuh berkembang lagi jadi berdelapan karena Icha ikut bakar2 ayam di rumah gue waktu itu. jadilah kita buat RAVACHIP pada tanggal 21 November 2010.
tapi sayang, RAVACHIP gak bertahan lama, cuma sekitar 2 bulan lebih. kita bubar karena ada satu masalah yg mungkin udah gak bisa diselesaikan lagi.
tapi mudah2an, walaupun RAVACHIP udah bubar, kita gak saling ngelupain dan sombong dan akan tetap bersahabat.
amiiinn.. :')

this is moment in RAVACHIP! :'D